tentang gunadarma

Jumat, 09 November 2018

STUDI KASUS STRUKTUR GEDUNG BERTINGKAT

ABSTRAK 

Baja dan beton adalah salah satu bahan untuk struktur yang sebelumnya sudah ditentukan besar kekuatannya pada saat perencanaan struktur bangunan. Besarnya kekuatan bahan yang direncanakan erat kaitannya dengan faktor ekonomis, efisiensi dan fungsi bangunan itu. Permasalahannya adalah mutu bahan di lapangan tidak selalu sesuai dengan mutu bahan yang ditetapkan dalam perencanaan. Mutu bahan di lapangan kadang jauh melampaui mutu bahan yang disyaratkan dalam perencanaan, tetapi kadang mutu bahan di lapangan di bawah mutu bahan yang direncanakan. Pada kondisi pertama hanya berpengaruh pada nilai ekonomis dan efisiensi. Tetapi pada kondisi kedua faktor keamanan struktur bangunan harus ditinjau dan diambil tindakan-tindakan memperbaiki yang tentunya mengakibatkan pekerjaan menjadi tidak ekonomis dan efisien lagi. Penelitian ini mencoba rnembandingkan dimensi struktur pada perencanaan dengan mutu bahan yang direncanakan dengan dimensi struktur hasil redisain dengan mutu bahan di lapangan.
Secara kesuluruhan pada proyek-proyekyang ditinjau mutu bahan yang dihasilkan tidak sesuai dengan mutu bahan rencana. Pada Proyek Telkom tampang II adalah hasil redisain optimum, dengan penghematan yang dapat diperoleh sebesar 15 % dibanding disain pada perencanaan. Proyek STIE-YKPN tampang III adalah hasil redisain optimum, dengan penghematan sebesar 20,26 % dibanding disain pada perencanaan. Proyek Kanca BRI tampang II adalah hasil redisain optimum, dengan penghematan sebesar 28,06 % dibanding disain pada perencanaan.

1.1. Latar Belakang Masalah
 Dalam era pembangunan dewasa ini, segala sektor dituntut untuk bersaing baik dalam mutu maupun pelayanannya, baik sektor bisnis, pendidikan, pariwisata, tempat hunian, sarana transportasi, telekomunikasi dan lain sebagainya. Untuk meningkatkan mutu dan pelayanan itu dibutuhkan sarana pendukung misalnya pembangunan bangunan bertingkat yang banyak dibangun saat ini. Untuk mewujudkan pembangunan sarana-sarana itu maka dilaksanakan suatu perencanaan bangunan berdasarkan kebutuhan dan fungsi bangunan, pertimbangan dari berbagai segi antara lain politik, ekonomi sosial dan budaya serta perencanaan strukturnya sendiri.
Perencanaan struktur bangunan akan melalui beberapa tahap antara lain melalui survey lapangan, disain arsitektur dan perhitungan dimensi struktur bangunan. Salah satu yang direncanakan sebelum mendimensi struktur bangunan adalah mutu bahan konstruksi. Dengan perencanaan mutu bahan konstruksi yang sesuai dengan kebutuhan dan fungsi bangunan itu nantinya, maka akan diperoleh suatu bangunan yang ekonomis namun tetap terjamin keamanannya.
Gedung-gedung yang dibangun saat ini biasanya berupa struktur beton bertulang. Pada struktur beton bertulang bahan utama konstruksinya adalah beton bertulang, dengan beton mutu K 300 dan baja U 22 untuk 0 13 mm ke bawah, dan U 39 untuk baja di atas 0 13 mm. Artinya gedung itu akan dibangun dengan beton yang mempunyai kuat desak karakteristik sebesar 300 kg/cm2, memakai baja yang bertegangan leleh sebesar 2200 kg/cm2 yang berdiameter 13 mm ke bawah dan 3900 kg/cm2 untuk yang berdiameter lebih besar dari 13 mm.

1.2. Permasalahan 
Salah satu aspek dalam perencanaan suatu bangunan seperti telah disebutkan di atas adalah perencanaan mutu bahan konstruksi yang akan dipakai, dalam hal ini mutu beton rencana dan mutu baja rencana. Perencanaan mutu bahan ini diperlukan sebagai dasar dalam perhitungan dimensi struktur bangunan. Yang menjadi permasalahan adalah bahwa mutu bahan konstruksi di lapangan dari hasil test di laboratorium sering kali tidak sesuai dengan mutu bahan yang direncanakan semula. Mutu bahan hasil test ada yang di atas atau bahkan di bawah mutu bahan rencana.
Kondisi ini akan berpengaruh pada nilai ekonomis dan efisiensi dalam proyek pembangunan tersebut. Sebab apabila hasil test laboratorium menunjukkan bahwa mutu bahan yang dihasilkan temyata di bawah mutu bahan yang direncanakan, maka haras dilakukan suatu tindakan atau upaya agar fungsi dan faktor keamanan bangunan tetap terjamin. Upaya ini tentunya memerlukan waktu dan biaya sehingga proyek tersebut menjadi berkurang nilai ekonomisnya dan kurang efisien.
Sebaliknya bila hasil test laboratorium terlampau jauh di atas mutu bahan rencana, ini berarti suatu pemborosan. Karena dengan mutu bahan konstruksi yang lebih tinggi akan didapat dimensi struktur yang lebih kecil.

1.3. Tujuan Studi Kasus 
Tujuan studi kasus ini adalah sebagai berikut:
. Membandingkan dimensi struktur di lapangan dengan mutu beton dan baja rencana dan dimensi struktur berdasarkan mutu beton dan baja yang dihasilkan.
 2. Mengetahui besarnya penghematan ataupun penambahan volume pekerjaan dengan mutu bahanyang sesungguhnya di lapangan.

1.4. Manfaat Studi Kasus 
Manfaat studi kasus ini antara lain :
1. Studi kasus ini diharapkan dapat diaplikasikan pada berbagai proyek yang akan ataupun tengah dibangun.
2. Dapat menghitung besar volume tambahan ataupun penghematan yang didapat darimutu beton danbajayang dihasilkan di lapangan.
 3. Dapat diambil tindakan berkaitan dengan mutu beton dan baja yang dihasilkan di lapangan dari hasil test di laboratorium, tanpa mengubah nilai keamanan bangunan sebagai unsur yangsangat penting.

1.5. Batasan Masalah 
Ruang lingkup permasalahan dalam studi kasus ini dibatasi sebagai berikut:
1. Membandingkan data dari hasil perencanaan dan data hasil test di laboratorium, yang meliputi kuat desak beton dan kuat tarik baja.
2. Merencanakan dimensi struktur berdasarkan kekuatan bahan dari hasil test di laboratorium, yaitu dimensi pelat lantai, balok dan kolom, khususnva akibat gaya lentur. Akibat gaya geser tidak dibahas dalam penelitian ini.
3. Membandingkan antara dimensi struktur hasil perencanaan semula dengan dimensi struktur dari perencanaan berdasarkan kekuatan bahan hasil test di laboratorium.

1.6. Metode Penelitian
Metode penelitian yang dipakai dalam studi kasus ini meliputi langkahlangkah sebagai berikut:
1. Pengumpulan data-data dari berbagai proyek khususnva di kodya Yogyakarta yang terdiri dari data test kuat tekan beton dan uji tarik baja dari laboratorium, gambar struktur, dasar perhitungan stmktur dan lain sebagainya.
2. Menghitung besarnya kekuatan beton dan kekuatan baja dari data yang didapatkan dari hasil test di laboratorium dari berbagai proyekdi atas.
3. Mendimensi struktur dengan kekuatan bahan yang sesungguhnya di lapangan.
4. Membandingkan antara dimensi struktur dengan kekuatan beton dan baja rencana dengan kekuatan beton dan baja di lapangan.

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2.1. Umum
Untuk merancang/mendisain stmktur bangunan diperlukan penguasaan ilmu tentang stmktur, baik analisa struktur, struktur beton, struktur baja dan lain sebagainya yang berhubungan dengan struktur. Salah satu yang direncanakan sebelum mendimensi struktur bangunan adalah mutu bahan konstruksi karena sangat berpengaruh terhadap kekuatan konstruksi bangunan. Dengan menentukan mutu bahan konstruksi yang sesuai dengan kebutuhan dan fungsi bangunan itu diusahakan pengeluaran biaya dapat seekonomis mungkin namun nilai kekuatan dan nilai keamanannya tetap terjamin.

2.2. Analisa dan Disain Kapasitas Balok T dengan Metode Elastis dan Kekuatan Batas
Penelitian ini dilakukan oleh Aiwa G. dan Arief Muharto (1995). Tujuannya untuk membandingkan antara metode kekuatan batas dengan metode elastis dalam mendukung momen, sehingga dapat diketahui metode yang lebih efisien dalam perencanaan balok T.
Proses disain ini dimulai dengan menentukan data yang diperlukan dalam mendisain balok T seperti mutu beton dan baja, panjang balok serta data- data yang lain yang digunakan dalam mendisain balok T kemudian data tersebut dimasukkan ke dalam rumus perencanaan baik dengan metode elastis dan metode kekuatan batas.
Hasil dari disain ini adalah untuk pemakaian penampang balok T yang sama antara metode kekuatan batas dengan metode elastis menunjukkan bahwa dengan menggunakan metode kekuatan batas lebih ekonomis dibandingkan metode elastis. Hal ini menunjukan bahwa perencanaandengan metode kekuatan batas akan lebih efisiean dari metode elastis.

2.3. Analisa Lentur dan Geser Lentur Balok Beton Bertulang Tampang Segitiga
Penelitian yang dilakukan oleh Johanis Suhali dan Barliyan (1994) ini tujuannya untuk menganalisa komparasi kapasitas lentur balok beton bertulang tampang persegi dengan balok beton tertulang tampang segitiga, juga memperkenalkan balok beton bertulang tampang segitiga sebagai altematif lain elemen stmktur pendukung bangunan. Analisa ini berpedoman pada PBI 1971.
Langkah-langkah yang hams ditempuh dalam menghitung kuat lentur pada balok beton bertulang tampang segitiga yang telah mengalami reduksi pada ujungbeton di daerahtarik adalah sebagai berikut:
a. Dihitung besar reduksi ujung beton.
b. Dihitung letak garis netral.
c. Diperiksa jarak antar tulangan.
d. Dihitung jarak lengan momen.
e. Dihitung kuat lentur balok.
Hasil analisa ini adalah untuk volume beton yang sama kapasitas lentur tampang segitiga lebih besar bila dibandingkan dengan balok tampang persegi. Dan volume yang dipakai pada balok segitiga tereduksi lebih kecil dibanding volume beton yang dipakai pada balok persegi. Dari hasil penelitian ataupun tulisan ilmiah di atas tidak dapat digunakan untuk merancang atau mendisain struktur bangunan secara keseluruhan. Seperti halnya penelitian yang di tulis oleh Aiwa G. dan Arief Maharta (1995) hanya menganalisa tentang kapasitas balok T saja dengan menggunakan metode elastis dan kekuatan batas. Demikian juga dengan penelitian yang ditulis oleh Johanis Suhali dan Barliyan (1994), penelitian ini penganalisaannya dengan menggunakan metode elastis dalam membandingkan kapasitas lentuk bertulang persegi dengan segitiga, dengan kata lain tulisan di atas ini hanya untuk merencanakan dimensi balok saja.
Dalam penelitian ini disain struktur bangunan yang ditinjau meliputi balok, kolom dan pelat. Sedangkan metode yang dipakai adalah metode elastis dan metode ultimit dan disesuaikan dengan metode disain yang dipakai dalam mendisain stmktur bangunan gedung itu semula (seperti dalam perencanaan proyek).

BAB III 
ANALISA STRUKTUR
3.1. Pengertian Beton
Beton adalah bahan yang diperoleh dari mencampur semen, pasir, agregat kasar dan halus, air dan juga kadang-kadang ditambah dengan bahan kimia tambahan ("admixture"). Dari material tersebut diaduk dengan merata sampai bersifat plastis yang kemudian dituangkan dalam cetakan dan dibiarkan hingga mengeras. Pengerasan tersebut terjadi oleh peristiwa reaksi kimia antara air dengan semen, dan hal ini berjalan selama waktu yang panjang, dan akibatnya campuran tersebut selalu bertambah keras setara dengan umumya. Beton yang sudah keras dapat dianggap sebagai batu tiruan.
Kekuatan, keawetan dan sifat beton yang lain tergantung antara lain bahan dasar pembentuknya, nilai perbandingan bahan-bahannya, cara pengadukan maupun cara pengerjaan selama penuangan adukan beton, cara pemadatan dan cara perawatan selama proses pengerasan. Campuran beton yang baik hams memenuhi faktor sebagai berikut:
1. kekuatan (strenght) tinggi, sehingga jika dikombinasikan dengan baja tulangan (yang kuat tariknya tinggi) dapat dikatakan mampu dibuat untuk struktur berat,
2. tahan lama (awet) yakni mempunyai sifat tahan terhadap karat oleh kondisi lingkungan,
3. kemudahan pengerjaan (workability), sifat ini merupakan ukuran dari tingkat kemudahan adukan untuk dituang dan dipadatkan. Perbandingan bahan-bahan maupun sifat-sifat bahan itu secara bersama-sama mempengaruhi sifat kemudahan pengerjaan beton.
3.2. Pengertian Baja 
Baja adalah merupakan paduan antara besi dengan karbon yang berbentuk batang yang biasa digunakan untuk penulangan beton. Berdasarkan bentuknya baja tulangan terdiri dari baja tulangan polos dan baja tulangan ulir (deform). 1 Baja tulangan polos merupakan batang baja yang permukaannya licin (rata). 2. Baja tulangan ulir merupakan batang dengan bentuk permukaan khusus untuk mendapatkan pelekatan (bonding) pada beton yang lebih baik dari pada baja tulangan polos pada luas penampang yang sama.
3.3. Kuat Desak Beton
Sifat beton pada umumnya lebih baik jika kuat desaknya lebih tinggi. Dengan demikian untuk meninjau beton biasanya secara kasar hanya ditinjau kuat desaknya saja. Dan kuat tekan beton biasanya berhubungan dengan sifat-sifat lain, maksudnya bila kuat tekannya tinggi sifat-sifat yang lain juga baik. Adapun faktor-faktor yang mempengaruhi kuat tekan beton adalah sebagai berikut:
1. faktor air semen (fas)
2. umur beton
3. pengaruh agregat.
3.3.1. Faktor air semen (fas)
Kuat desak beton pada umur-umur tertentu sangat dipengaruhi oleh perbandingan berat air dan berat semen dalam campuran beton. Dengan kata lain jika angka perbandingan air terhadap semen sudah tertentu, maka kekuatan beton yang direncanakan pada umur tertentu pada dasamya dapat diperoleh dengan syarat bahwa campuran tersebut dapat dikerjakan, agregatnya baik, tahan lama dan bebas material yang merugikan.
3.3.2. Umur beton 
Suatu beton apabila umumya bertambah maka kekuatannya (kuat desak, kuat tarik dan kuat lekat) bertambah tinggi. Yang dimaksud dengan umur beton adalah waktu yang dihitung sejak beton dicor. Pada umumnya standar kekuatan beton dipakai kuat tekan beton pada umur 28 hari, namun jika keadaan mendesak pada beton yang bemmur kurang dari 28 hari boleh dilakukan pengujian kuat desak beton tetapi dengan syarat hasilnya hams dibagi dengan faktor tertentu untuk mendapatkan perkiraan kuat desak beton pada umur 28 hari. Nilai faktor pembanginya dapat dilihat pada bab 4 tabel 4.1.4. PBI 1971.
3.3.3. Pengaruh agregat
Pengaruh agregat terhadap kekuatan beton yang utama adalah bentuk, tekstur permukaan dan ukuran maksimum agregat itu sendiri. Untuk menghasilkan kuat desak beton yang tinggi maka diusahakan untuk memilih 11 bentuk agregat yang bersudut (batu pecah) karena mempunyai luasan permukaan yang lebih besar daripada agregat yang bulat(kerikil), sehingga mempunyai daya lengket dengan pasta lebih kuat.
3.4. Kuat desak beton karakteristik 
Kuat desak beton karakteristik adalah kekuatan desak dari hasil pemeriksaan sejumlah benda uji yang memungkinkan adanya kekuatan desak yang kurang dari itu terbatas sampai 5 % saja. Untuk memperoleh kualitas beton sesuai dengan kuat tekan beton yang disyaratkan, dianjurkan untuk membuat sedikit di atas dari kuat desak beton yang disyaratkan. Apabila kuat desak beton rata-rata di bawah kuat desak beton yang disyaratkan maka pengecoran tersebut hams dihentikan dan dalam waktu singkat hams diadakan percobaan non-destruktif pada bagian konstruksi yang kekuatan betonnya meragukan itu.Untuk lebih jelasnya lagi dapat di baca pada buku PBI 1971 bab 4 pasal 4.8. ayat 1- 3. Selain dari sudut persyaratan kuat tekan juga dapat pula dievaluasi dari sudut biaya, karena jika kuat desak beton yang diperoleh terlalu tinggi di atas persyaratan biaya pembuatan beton biasanya terlalu mahal. Adapun cara menghitung kuat tekan beton karakteristik (a"bk) bisa dilihat pada PBI 1971 bab 4 pasal 4.5.
3.5. Kuat Tarik Baja Tulangan 
Agar perancangan struktur dapat optimal, sehingga hasil rancangan cukup aman dan ekonomis, maka sifat-sifat mekanika bahan struktur perlu diketahui dengan baik. Jika sifat-sifat bahan struktur tidak dikuasai, hasil perancangan tidak saja dapat boros, tetapi juga dapat berbahaya. Sifat-sifat baja struktur dapat dipelajari dari diagram tegangan-regangan. Diagram ini menyajikan informasi yang penting pada baja dalam berbagai tegangan. Untuk membuat diagram tegangan-regangan, perlu dilakukan pengujian bahan. Pengambilan spesimen untuk pengujian bahan beserta bentuk dan ukurannya dilakukan berdasarkan suatu peraturan, misalnya PUB1, ASTM, British Standard dan sebagainya. Pengujian tarik spesimen baja dapat dilakukan memakai Universal Testing Machine (UTM). Dengan mesin ini spesimen ditarik dengan gaya yang berubah-ubah, dari nol diperbesar sedikit demi sedikit sampai batang putus. Pada saat spesimen ditarik, besar gaya atau tegangan dan pembahan panjang batang atau regangan dimonitor. Pada UTM yang mutakhir, hasil monitoring ini dapat disimpan dalam disk, atau disajikan dalam bentuk diagram tegangan-regangan lewat plotter.
3.6. Metode Elastis
Perhitungan dengan metode elastis meliputi hal-hal sebagai berikut: a. Statika konstruksi, yaitu perhitungan momen dan gaya-gaya di dalam konstruksi akibat beban dengan menggunakan prinsip dari teori elastis. b. Disain tampang yaitu mendisain penampang beton dari ketentuan yagn sudah ada sebelumnya untuk mendapatkan dimensi penampang yang memenuhi syarat dalam hal kekuatan dan keamanan. c. Analisa tampang yaitu hitungan kekuatan penampang beton serta jumlah tulangan yang sudah didisain akibat momen dan gaya yang bekerja pada penampang tersebut. Dalam hal ini, maka pada setiap penampang kritis dari konstmksi tidak boleh bekerja tegangan-tegangan yang melampaui tegangan ijin bahan. Kekuatan desak ijin beton diperoleh dari kuat desak karakteristik (o'bk) dikalikan dengan suatu faktor tertentu, sedang kekuatan tank ijin baja tulangan didapat dari tegangan leleh karakteristik (oau) atau tegangan karakteristik yang memberikan regangan sebesar 0,2 % (o 0.2) dikalikan dengan suatu faktor tertentu pula. Besarnya nilai faktor untuk beton dan baja tulangan berbeda. Dan nilainya tergantung pada jenis pembebanan, keadaan lingkungan dan letak bagian konstruksi tersebut.seperti dijelaskan di atas. Tegangan ijin baja-tulangan dan beton dapat dilihat pada tabel 10.4.1. dan 10.4.2. PBI 1971.

BAB IV 
STRUKTUR BANGUNAN GEDUNG BERTLNGKAT SEBAGAI MODEL ANALISIS
3.7. Umum 
Pada bab sebelumnya telah dibicarakan mengenai teori, batasan-batasan dan juga metode-metode yang digunakan dalam menganalisa stmktur bangunan gedung. Dari data hasil uji beton dan baja beberapa proyek pembangunan di DIY didapat kuat tarik baja dan kuat desak beton yang sesungguhnya dihasilkan di lapangan. Kemudian dari kekuatan bahan yang sesungguhnya di lapangan ini dilakukan redesign stmktur dengan menggunakan program bantu yaitu dengan bahasa Basic dan Turbo Basic. Dalam program ini dipakai rumus sebagaimana telah dibicarakan pada bab sebelumnya
Hasil redisain tersebut di atas kemudian dibandingkan dengan disain dalam perencanaan sehingga diketahui seberapa besar penghematan atau penambahan yang akan didapat jika pada proyek tersebut dilakukan redesign berdasarkankekuatan bahan yang sesungguhnya di lapangan. Dalam Tugas Akhir ini sebagai bahan analisis studi komparasi diambil data-data dari beberapa proyekyang ada di DIY, yaitu :
1. Proyek Pembangunan GedungTELKOM Yogyakarta.
2. ProyekPembangunan Gedung Ruang Kuliah danPerpustakaan STIE-YKPN.
3. ProyekPembangunan Gedung Kanwil/Kanca BRIYogyakarta.
Mengenai data-data perencanaan dan hasil uji laboratorium akan disajikan pada sub-bab berikut ini. 3.8. Data Proyek 
Data proyek yang diperlukan dalam studi kasus ini seperti telah dipaparkan di depan, meliputi dasar perencanaan, mutu bahan (baja dan beton), hasil uji bahan di laboratorium dan data-data stmktur (gambar struktur).
3.9. Data Proyek Pembangunan
Gedung TELKOM Yogyakarta
1. Dasar perhitungan memakai PBI 1971.
2. Mutu bahan direncanakan :
a. Beton K 250.
b. Baja U 24 untuk 0 < 13 mm dan U 39 untuk 0 13 mm ke atas.
3. Gedung direncanakan untuk perkantoran.
4. Potongan portal lintang gedung.
5. Hasil uji beton dan baja di laboratorium

BAB V KESIMPULAN DAN SARAN
4.1. Kesimpulan 
Dari uraian sebelumnya dapat disimpulkan bahwa mutu bahan yang dihasilkan di lapangan tidak sesuai dengan mutu bahan yang ditetapkan dalam perencanaan. Kesimpulan rinci masing-masing proyek adalah sebagai berikut:
4.1.1. Proyek Gedung Telkom Yogyakarta 
a. Pada proyek ini mutu bahan yang dihasilkan di lapangan tidak sesuai dengan mutu bahan yang direncanakan. Mutu beton di lapangan mengalami kenaikan dan mutu beton rencana. Baja 0 < 13 mm sesuai perencanaan, sedang 0 > 13 mm melampaui mutu perencanaan.
b. Hasil redisain pelat tidak mengalami perubahan baik tebal pelat maupun jarak tulangannya. c. Altematif redisain portal yang optimum adalah pada tampang II dengan biaya sebesar 15 % lebih rendah dibanding dalam perencanaan.
4.1.2. Proyek Gedung STIE-YKPN Yogyakarta 
a. Pada proyek ini mutu bahan yang dihasilkan di lapangan tidak sesuai dengan mutu bahan yang direncanakan. Mutu beton dan baja tulangan di lapangan mengalami kenaikan kekuatan yangsangat tinggi. 66 67
b. Pada platre disain menunjukkan tidak mengalami perubahan.
c. Pada portal yang ditinjau altematif redisain tampang HI adalah redisain yang optimum dengan biaya 20,26 % lebih rendah dibanding dalam perencanaan.
4.1.3. Saran 
Dari uraian dalam pembahasan dan kesimpulan di atas maka penyusun memberi saran sebagai berikut: a. Pada pelaksanaan suatu proyek agar bangunan yang dihasilkan benar-benar efisien dan ekonomis tetapi keamanan tetap terjamin, maka mutu bahan konstruksi yang dipakai ini hams benar-benar diperhatikan agar sesuai dengan mutu bahan yang direncanakan.
b. Apabila mutu bahan di lapangan lebih rendah dari mutu bahan yang direncanakan maka perlu dievaluasi kembali kemampuan struktur bangunan itu dalam mendukung beban kerja. Kemudian diambil langkah untuk penanggulangan dan perbaikan sehingga keamanan konstruksi tetap terjamin. c. Apabila mutu bahan di lapangan jauh melampaui mutu bahan rencana, kiranya perlu diperhitungkan penghematan volume pekerjaan yang sebenamva dapat diperoleh dengan mutu bahan di lapangan tersebut.
d. Pada penelitian ini penyusun belum membahas tulangan penahan geser, struktur pondasi, penyebab perbedaan mutu bahan dalam perencanaan dan mutu bahan di lapangan dan langkah-langkah penanggulangannya. Kiranya hal-hal tersebut di atas dapat dijadikan bahan kajian untuk penelitian selanjutnya.

DAFTAR PUSTAKA 
1. Istimawan Dipohusodo, 1994, STRUKTUR BETON BERTULANG, Berdasarkan SK SNI T-15-1991-03, Departemen Pekerjaan Umum RI, Jakarta.
2. Nawy, Edward G, 1990, BETON BERTULANG, terjemahan Ir. Bambang Suryoatmono, M.Sc. Fakultas Teknik Jurusan Sipil Universitas Katolik Parahiyangan, PT.Eresco, Bandung.
3. Kardiyono Tjokrodimuljo, 1992, BAHAN BANGUNAN, Jurusan Teknik Sipil, Fakultas Teknik, Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta.
4. Direktorat Penyelidikan Masalah Bangunan, Direktorat Jenderal Cipta Karya Departemen Pekerjaan Umum dan Tenaga Listrik, 1979, PERATURAN BETONBERTULANG INDONESIA 1971 N.I.-2, cetakan ke 7, Bandung
5 PADOSBAJAYOJ992, PENGETAHUAN DASAR STRUKTUR BAJA, edisi ke-2, Yogyakarta.
6. Aiwa G, Arief M, 1995, Analisa dan Disain Kapasitas Balok T dengan metode Elastis dan Kekuatan Batas, FTSP - UII, Yogyakarta.
7. Johanes S, Barliyan, 1994, Analisa Lentur dan Geser Lentur Balok Beton Bertulang Tampang Segitiga, FTSP - UII, Yogyakarta.

Teknik-Teknik Penulisan Yang Baik dan Benar

Salah satu kaidah penulisan yang sudah tergantung dalam Ejaan Yang Disempurnakan (EYD) adalah tata cara penulisan huruf. Tata cara penulisan huruf adalah salah satu kaidah paling dasar dalam EYD, sehingga terkadang para penulis menyepelekannya.
Dalam tata cara penulisan huruf, ada dua penulisan huruf yang menjadi fokus kita. Yang pertama, adalah penggunaan huruf kapital atau sering kita sebut huruf induk. Yang kedua, adalah penggunaan huruf miring atau secara universal disebut italic. Berikut ini tata cara penulisan huruf yang wajib kita ketahui:
A. Teknik Menulis Huruf Kapital
1. Huruf kapital digunakan sebagai penggunaan huruf pertama dalam ungkapan yang berkaitan dengan hal-hal keagamaan, kitab suci, nama Tuhan termasuk kata gantinya.
Contohnya:
– Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang
– Qur’an, Alkitab, Injil, Taurat
– Islam, Kristen, Katholik, Hindu, Budha
– Al-Baqarah ayat 145, Yohanes : 2
– Tuhan akan menunjukkan jalan yang benar kepada hamba-Nya.
– Bimbinglah hamba-Mu, ya Tuhan, ke jalan yang Engkau beri rahmat.
2. Huruf kapital digunakan sebagai huruf pertama gelar kehormatan, keturunan, dan keagamaan yang diikuti nama orang.
Contohnya:
Muhammad SAW, Isa Al-Masih
– Nabi Ibrahim, Nabi Nuh, Malaikat Jibril
– Imam Syafi’I, Haji Agus Salim, Sri Sultan Hamengkubuwono IX
– Dia baru saja diangkat menjadi sultan yang kesebelas.
– Dua tahun berikutnya, dosen kami akan berangkat haji.
– Hassanuddin, sultan Makassar, digelari Ayam Jantan dari Timur.
Adapun beberapa perhatian khusus, seperti dalam kalimat ini :
– Dia baru saja diangkat menjadi sultan yang kesebelas.
– Dua tahun berikutnya, dosen kami akan berangkat haji.
– Hassanuddin, sultan Makassar, digelari Ayam Jantan dari Timur.

3. Huruf kapital digunakan sebagai huruf pertama nama orang.
Contohnya:
– Muchamad Resya Firmansyah, Arum Sulistyowati, Sri Handayani, Patrick Simamora, Alan Budi Kusuma, Giovanni Putri Astuti, Bambang Sutrisno, Rhendy Sapta Wardhana– Bastian Schweinsteiger, Carlo Ancellotti, Vladimir Putin, Kobe Bryant, Scarlet Johansson, Muhammad Ali.

4. Huruf kapital digunakan sebagai huruf pertama nama jabatan dan pangkat yang diikuti nama orang pemangku jabatan.
Contohnya:
– Presiden Soekarno, Wakil Presiden B.J. Habibie, Perdana Menteri Silvio Berlusconi, Paduka Yang Mulia Raja Bhumibol Adulyadej, Ratu Elizabeth
– Walikota Tri Rismaharini, Gubernur Ahok
– Menteri Pendidikan Anis Baswedan, Menteri Bambang Sudibyo
– Profesor Soepomo, Letnan Jenderal Djoko Santoso, Letjen Suprapto
Adapun beberapa perhatian khusus, seperti dalam kalimat ini :
– Siapakah walikota yang baru dilantik itu?
– Dua hari yang lalu, Mayor Jenderal Djoko Santoso baru diangkat menjadi letnan jenderal.

5. Huruf Kapital digunakan sebagai huruf pertama nama bangsa, suku, dan bahasa.
Contohnya :
– bangsa Indonesia, suku Dayak, bahasa Jepang
Adapun perhatian khusus dalam penyusunan kalimat, seperti :
– . . . mengindonesiakan kata-kata asing.
– Jangan keinggris-inggrisan!

6. Huruf kapital digunakan sebagai huruf pertama nama tahun, bulan, hari, hari raya, dan peristiwa sejarah.
Contohnya :
– tahun Hijrah, bulan Oktober, hari Galungan, Jum’at Kliwon, hari Natal, Perang Tabuk, Proklamasi Kemerdekaan Indonesia.
Adapun perhatian khusus dalam penyusunan kalimat, seperti :
– Soekarno-Hatta memproklamasikan kemerdekaan Indonesia pada . . .
– Perkembangan teknologi nuklir memicu resiko pecahnya perang . . .

7. Huruf kapital digunakan sebagai nama khas geografi.
Contohnya :
– Asia Tenggara, Sungai Nil, Kali Opak, Lembah Baliem, DKI Jakarta, Jabotabek, Kota Pelajar, Daerah Istimewa Yogyakarta
Adapun perhatian khusus seperti :
– . . . mereka pun akhirnya pergi ke selatan.
– Mandi di kali adalah kebiasaan masyarakat . . .

8. Huruf kapital digunakan sebagai huruf pertama nama resmi badan, lembaga pemerintahan, organisasi, ketatanegaraan, dan nama dokumen resmi, serta sebagai huruf pertama setiap unsur bentuk ulang sempurna.
Contohnya :
– Undang Undang Dasar 1945 (UUD 45)
– Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI)
– Kementrian Riset dan Teknologi dan Pendidikan Tinggi
– Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB)
– Palang Merah Indonesia (PMI)
– Rancangan Undang-Undang Kepegawaian
– Surat Keputusan Presiden Republik Indonesia, Nomor 57, Tahun 2004
Adapun beberapa perhatian khusus, antara lain :
– Pemerinttah republik kita telah menyepakati . . .
– . . . menurut undang-undang yang berlaku, guru . . .
– . . . kasus suap dalam beberapa lembaga badan hukum.

9. Huruf kapital digunakan sebagai huruf pertama semua kata di dalam nama buku, majalah, surat kabar, dan judul karangan, kecuali kata partikel seperti di, ke, dari, untuk, dan yang, yang tidak pada posisi awal.Contohnya :
– Dari Ave Maria ke Jalan Lain ke Roma
– Bacalah majalah Bahasa dan Sastra
– Yadi adalah wartawan koran Jawa Pos.

10. Huruf kapital digunakan sebagai huruf pertama unsur singkatan nama gelar, pangkat, dan sapaan khusus.Contoh :
– S.S. sarjana sastra
– Prof. professor
– S.pd.                   sarjana pendidikan
– M.A.                   master of arts
 – Tn.                       tuan
– Bpk.                    bapak
– Ny.                      nyonya
– Sdr.                     Saudara

B. Teknik Menulis Huruf Miring
1.) Huruf miring digunakan untuk menulis nama buku, majalah, dan surat kabar yang dikutip dalam tulisan.
Contohnya :
– majalah Bobo
– surat kabar Kompas
– novel Tenggelamnya Kapal Van der Wijk karya Buya Hamka
2.) Huruf miring digunakan untuk menegaskan atau menghususkan huruf, bagian kata, atau kelompok kata.
Contohnya :
– Buku ini bukan buku novel fantasi semata, melainkan . . .
– Orang itu memanglah panjang tangan!
– Dia tidak menafkahi, tetapi dinafkahi oleh istrinya yang sudah . . .
3.) Huruf miring digunakan ketika menulis kata-kata nama ilmiah dan ungkapan asing, kecuali yang telah disesuaikan ejaannya dengan EYD.
Contohnya :
– Menurut Darwin, Homo sapiens adalah makhluk yang disebut . . .
– Kurang dari sewindu, negara tersebut secara de facto telah . . .
 Yggdrasil, secara mitologi nordik, diterjemahkan sebagai pohon dunia.
Adapun contoh istilah asing yang telah disesuaikan, yaitu :
– Lembaga tersebut tengah melakukan komputerisasi data. (dari kata computerization)
– Negara itu telah mengalami empat kali kudeta (dari kata coup d’etat)
– Virus adalah mikroorganisme yang menyebabkan penyakit (dari kata microorganism)
Pada akhirnya kita wajib mengetahui kaidah ini supaya tulisan kita menjadi berkualitas. Tentunya juga, demi tujuan menulis buku yang berkualitas.  Pelajaran yang didapat: “Jangan pernah menyepelekan hal yang kecil”.
Meskipun kecil, aturan inilah yang menjadi tolak ukur ketelitian kita dalam menulis buku. Serta, tolak ukur kepedulian kita. Bagaimana kita dapat memajukan diri sendri jika hal yang kecil saja kita tidak bisa? Semoga bermanfaat.

Kamis, 18 Oktober 2018

JURNAL TENTANG PENGARUH RENDAMAN AIR LAUT TERHADAP KAPASITAS LENTUR BALOK DENGAN PERKUATAN GERP AKIBAT BEBAN FATIK

ABSTRAK: Perkuatan struktur dengan GFRP merupakan salah satu inovasi yang berkembang pada dunia konstruksi saat ini. Penggunaan material ini cukup luas terutama pada struktur yang telah mengalami penurunan kapasitas akibat umur,pengaruh lingkungan, ataupun pembebanan secara terus-menerus. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis perilaku lentur balok dengan perkuatan GFRP akibat pengaruh rendaman air laut. Pengujian dilakukan dengan pembebanan fatik dimana benda uji dibebani secara terus-menerus hingga mengalami kegagalan. Benda uji berupa balok beton bertulang dengan ukuran 15 cm x 20 cm x 330 cm sebanyak 4 buah. Masing-masing benda uji diberi perlakuan yang berbeda-beda,1 balok tanpa perkuatan GFRP,1 balok dengan perkuatan GFRP tanpa perendaman,1 balok dengan perkuatan GFRP dengan waktu rendaman 1 bulan dan 1 balok dengan perkuatan GFRP dengan waktu rendaman 6 bulan.Hasil pengujian menunjukkan bahwa persentase selisih momen kapasitas yang terjadi pada balok dengan rendaman 1 bulan dan 6 bulan sebesar 11.53%.
Kata kunci : Kapasitas Lentur, GFRP, Fatik

1. PENDAHULUAN 
Dewasa ini dunia konstruksi mengalami perkembangan yang cukup pesat. Salah satu inovasi yang berkembang adalah perkuatan sturktur. Perkuatan struktur merupakan hal mendasar yang diperlukan bagi struktur yang mulai menunjukkan penurunan kapasitas ataupun mengalami kerusakan akibat umur, pengaruh lingkungan, perubahan pembebanan,kelemahan dalam perawatan, kejadian alam seperti gempa bumi dan berbagai pengaruh lainnya. Glass Fiber Rainforced Polymer adalah salah satu material yang saat ini banyak diteliti sebagai solusi dari perkuatan dan perbaikan struktur beton.Material ini tergolong relatif mahal namun memiliki beberapa kelebihan seperti ketahanan terhadap korosi, memiliki kuat tarik tinggi, elastis dan merupakan material yang sangat ringan. Penggunaan material GFRP cukup luas, tidak hanya terbatas pada konstruksi gedung namun juga digunakan pada konstruksi lepas pantai yang terekspos oleh air laut seperti konstruksi dermaga dan jembatan. Pada umumnya struktur yang terekspos air laut akan mengalami penurunan kekuatan akibat korosi yang terjadi pada tulangan. Secara garis besar masalah yang diteliti pada penelitian ini adalah bagaimana efektifitas penggunaan GFRP sebagai material perkuatan struktur terutama pada balok yang direndam air laut dan menerima pembebanan berulang atau fatik. Hasil dari penelitian ini diharapkan dapat memberikan pemahaman tentang pengaruh rendaman air laut terhadap kapasitas lentur balok dengan perkuatan GFRP akibat beban fatik.

2. TINJAUAN PUSTAKA 
2.1. Beton Bertulang 
Berdasarkan SNI-03-2847 pasal 3.13 (2002), beton bertulang adalah beton yang ditulangi dengan luas dan jumlah tulangan yang tidak kurang dari nilai minimum, yang disyaratkan dengan atau tanpa prategang dan direncanakan berdasarkan asumsi bahwa kedua material bekerja bersama-sama dalam menahan gaya yang bekerja
Pada suatu kondisi tertentu balok dapat menahan beban yang terjadi hingga regangan tekan lentur beton maksimum (ε’c)maks mencapai 0.003 sedangkan tegangan tarik tulangan mencapai tegangan leleh fy.. Jika hal itu terjadi, maka nilai fs = fy dan penampang dinamakan mencapai keseimbangan regangan (penampang bertulangan seimbang)
Resultan gaya tekan dalam dan resultan gaya tarik dalam arah garis kerjanya sejajar, sama besar namun berlawan arah dengan jarak z sehingga membentuk kopel momen tahanan dalam, dimana nilai maksimumnya disebut sebagai kuat lentur. Nilai Cc dapat dihitung dengan menyederhanakan bentuk distribusi tegangan lentur menjadi tegangan ekuivalen. Blok tegangan ekuivalen ini mempunyai tinggi a dan tegangan tekan rata-rata sebesar 0.85 f’c. Pada keadaan seimbang, nilai Cc = Ts , sehingga luas tulangan longitudinal dapat ditentukan dengan persamaan:
 0.85.f’c.a.b = As.fy .............. (1)

2.2. Glass Fiber Rainforced Polymer (GFRP) 
Glass Fiber Reinforced Polymer (GFRP) adalah material komposit yang terdiri dari fibre (serat) glass yang disatukan zat matrik, seperti epoxy atau polyester. Matrik itu sendiri berfungsi sebagai media penyalur tegangan ke serat dan melindungi serat dari pengaruh lingkungan yang agresif (Feldman dan Hartono, 1995). Material ini memiliki banyak keuntungan antara lain tahan terhadap korosi, mempunyai kuat tarik yang tinggi, superior dalam daktilitas, lebih ringan sehingga tidak memerlukan peralatan yang berat untuk dibawa ke lokasi. Disamping itu material ini juga memiliki kelemahan yaitu tidak tahan terhadap api dan harganya yang relatif mahal.
Adapun karasteristik material GFRP dalam keadaan komposit dapat dilihat dibawah ini; 

Karasteristik GFRP dalam keadaan komposit
PROPERTI LAPIS KOMPOSIT (GFRP+EPOXY) Properti Metode ASTM Nilai Test Nilai Desain Tegangan tarik ultimit dalam arah utama fiber (Psi) D-3039 575 MPa 460 MPa Regangan D-3039 2,2 % 2,2 % Modulus Tarik D-3039 26,1 GPa 20,9, Tegangan tarik ultimit 900 dari arah utama fiber D-3039 25,8 MPa 20,7 MPa (Psi) Tebal lapisan D-3039 1,3 mm 1,3 mm.

Kapasitas momen nominal perkuatan lentur dengan menggunakan FRP dapat dihitung dengan persamaan berikut. Untuk perkuatan lentur ACI committee 440 merekomendasikan nilai faktor reduksi untuk FRP (ωf ) sebesar 0,85.

2.3. Fatik 
Fatik merupakan fenomena terjadinya kerusakan material karena pembebanan yang berulang ulang. Diketahui bahwa apabila pada suatu material dikenakan tegangan berulang, maka material tersebut akan patah pada tegangan yang jauh lebih rendah dibandingkan tegangan yang dibutuhkan untuk menimbulkan perpatahan pada beban statik.
Mekanisme kerusakan fatik dibagi menjadi tiga tahap yaitu inisiasi atau pembentukan retak(crack initiation), pertumbuhan dan perambatan retak (crack growth, crack propagation) dan kerusakan fatik (fatigue damage). Proses kerusakan fatik dimulai dari pembebanan berulang pada material selama waktu tertentu sehingga terbentuk regangan plastis pada daerah konsentrasi tegangan. Regangan plastis ini akan memicu terbentuknya inisiasi retak. Tegangan tarik kemudian akan memicu inisiasi retak untuk tumbuh dan merambat sampai terjadinya kerusakan. Untuk pengujian fatik ACI committee 440 merekomendasikan nilai tegangan beton dibawah beban layang harus dibatasi pada 45% f’c dan untuk tegangan baja dibatasi pada 80% fy seperti pada persamaan berikut:
fc ≤ 45% f’c
fy ≤ 80% fy
3. METODOLOGI PENELITIAN 
3.1. Tahapan Penelitian Penelitian yang dilakukan adalah studi pengaruh rendaman air laut terhadap kapasits lentur balok dengan perkuatan GFRP akibat beban fatik. Dalam penelitian ini dilakukan pembuatan rancangan campuran beton normal dengan f’c = 25 MPa. Penelitian kali ini menggunakan 4 balok beton bertulang dengan dimensi 15 cm x 20 cm x 60 cm. Masing-masing benda uji diberi perlakuan yang berbeda-beda,1 balok tanpa perkuatan GFRP,1 balok dengan perkuatan GFRP tanpa perendaman,1 balok dengan perkuatan GFRP dengan waktu rendaman 1 bulan dan 1 balok dengan perkuatan GFRP dengan waktu rendaman 6 bulan.

3.2. Pengujian Pembebanan Fatik 
Pengujian ini dilakukan pada benda uji skala penuh (full scale) berukuran 150 mm x 200 mm x 3300 mm, dengan memberi pembebanan berulang pada balok beton bertulang dengan frekuensi dan jumlah siklus tertentu. Pembebanan fatik pada pengujian ini mengacu pada ACI 440.2R-08 dimana tegangan tekan beton yang diisyaratkan yaitu sebesar 45% f’c. Adapun data-data yang dihasilkan pada pengujian ini yaitu data regangan dan lendutan untuk tiap siklus pembebanan melalui PC oleh rangkaian alat uji strain gauge.

3.3. Desain Benda Uji 
Benda uji balok ukuran 150 mm x 200 mm x 3300 mm, dibuat sebanyak 4 buah dan dipasang electrical starin gauge pada baja, beton dan GFRP. Pada penelitian ini daerah tarik balok digunakan tulangan 2ø14 (tegangan leleh = 421.71 Mpa),sedangkan untuk tulangan geser digunakan tulangan ø10-77 pada 1/3 bentang kiri dan 1/3 bentang kanan, dan bentang tengah ø10-200 .kuat tekan rata-rata beton (f’c) = 25 MPa. Desain balok sebagai berikut :

4. HASIL DAN PEMBAHASAN 
4.1.Pengujian Blok BFN
Balok BFN adalah balok normal tanpa perendaman yang berfungsi sebagai balok kontrol untuk balok lain karena memiliki karasteristik yang sama. Pengujian dilakukan dengan pembebanan berulang dengan beban maksimum 19 kN, beban minimum 4 kN dan frekuensi 1.5 Hz. Dari hasil pengujian balok BFN mengalami kegagalan pada siklus 600.000.

4.2. Pola Keretakan 
Pengamatan pola retak dilakukan terhadap benda uji pada saat beban retak pertama sampai beban retak maksimum. Menurut Mccromac(2001),retak lentur adalah retak vertical yang memanjang dari sisi tarik dan mengarah keatas sampai daerah sumbu netral. Pola retak yang terjadi pada semua benda uji pada pengujian ini adalah retak lentur,hal ini dilihat dngan adanya retak-retak yang arah rambatannya vertical dari sisi tarik menuju ke garis netral balok seperti terlihat pada semua gambar pola retak.

5. KESIMPULAN DAN SARAN 
5.1.Kesimpulan dari hasil penelitian pada benda uji balok beton bertulang dan pembahasan dapat ditarik .
kesimpulan sebagai berikut : 
1. Pemberian beban fatik pada balok beton bertulang menyebapkan terjadinya penurunan kapasitas lentur,hal ini dapat dilihat dari meningkatnya nilai regangan beton,regangan baja,regangan GFRP dan lendutan seiring dengan penambahan jumlah siklus pembebanan. 
2. Rendaman air laut menyebabkan terjadinya penurunan kapasitas lentur balok,hal ini dapat dilihat dari menurunnya momen kapasitas yang terjadi pada balok dengan waktu rendaman yang lebih lama. Untuk balok dengan rendaman 1 bulan Mu sebesar 28.7952 kNm ,sedangkan balok dengan rendaman 6 bulan Mu sebesar 25.4724 kNm.Terjadi penurunan momen kapasitas sebesar 3.3228 kNm atau 11.53%. Perkuatan balok dengan GFRP menunjukkan peningkatan kapasitas balok,terbukti dengan kemampuan balok menerima pembebanan berulang hingga siklus yang lebih besar.Balok dengan perkuatan GFRP memiliki kemampuan menerima pembebanan fatik hingga siklus 1.200.0000,sedangkan balok tanpa perkuatan GFRP hanya dapat bertahan hingga siklus 600.000.

5.2.Saran 
1. Perlu adanya penelitian lebih lanjut dengan frekuensi dan jumlah siklus yang disesuaikan dengan kondisi di lapangan pada umumnya sehingga dapat dilakukan analisa pada perencanaan struktur dengan kondisi pembebanan fatik. 
2. Penelitian harusnya dilakukan dengan jumlah tim yang lebih banyak mengingat pelaksanaan pengujian fatik memerlukan tenaga dan waktu yang cukup besar.

DAFTAR PUSTAKA
ACI.Committee 440.2R-08, 2008.Guide for the Design and Construction of Externally Bonded FRP Systems for Strengthening Concrete Structures. American Concrete Institute. U.S.A Alami Fikri, 2010. Perkuatan Lentur Balok Beton Bertulang dengan Glass Fiber Reinforced Polymer (GFRP). SSeminar dan Pameran HAKI, Jakarta Suardana,I Ketut dan Widiarsa,Ida B G,2008.Perilaku Runtuh Balok Beton Bertulang Yang Diperkuat Lapis Glass Fibre Rainforced Polymer.Jurnal Ilmiah Teknik Sipil. Duhri, Aswin Perdana, 2013. Studi Pengaruh Sabuk Gfrp Diagonal Terhadap Kuat Lentur Balok Beton Bertulang. Skripsi Strata satu Universitas Hasanuddin, Makassar. MR, Fatriady,2013.Studi Pengaruh Beban Fatik Terhadap Kapasitas Lentur Balok Beton Bertulang Dengan Perkuatan Glass Fibre Rainforced Polymer Sheet.Tesis, Program Magister Universitas Hasanuddin, Makassar.


Rabu, 28 Maret 2018


CADANGAN WAKTU PADA PENJADWALAN PROYEK
   PEMBANGUNAN RUMAH SAKIT ADVENT BANDUNG

I.                        PENDAHULUAN
1.1                   Latar Belakang
  Dalam setiap proyek selalu ada tujuan khusus dan dalam proses pencapaian tujuan tersebut selalu ada batasan yang harus dipenuhi yaitu besar biaya (anggaran) yang dialokasikan, waktu pelaksanaan yang terbatas, serta mutu yang sudah ditentukan. Ketiga batasan inilah yang sering disebut dengan tiga kendala (triple constraint). Ketiga kendala tadi membuat proyek harus diselesaikan dengan biaya yang tidak boleh melebihi anggaran, untuk proyek-proyek yang melibatkan dana dalam jumlah yang cukup besar dan biasanya dilaksanakan lebih dari 1 tahun (Multy Years) maka anggarannya tidak hanya ditentukan secara total proyek namun dipecah menjadi beberapa komponen-komponen atau periode-periode tertentu (misal Triwulan atau kuartal) yang jumlahnya akan disesuaikan dengan keperluan yang ada. Dengan demikian, penyelesaian bagian-bagian proyek pun harus memenuhi sasaran anggaran per periode (Soeharto, 1999). 

Dalam melakukan penjadwalan proyek perlu memahami bahwa penyusunannya didasarkan pada prediksi, sehingga jadwal tentu akan mengalami kekeliruan dalam pembuatannya untuk itu dituntut lebih teliti dan cermat dalam penyusunannya. Guna mendukung hal ini perlu memahami bahwa dalam melaksanakan proyek memerlukan informasi yang selengkap-lengkapnya dan seakurat mungkin sehingga dapat meminimalkan kesalahan dalam melakukan penjadwalan. Faktor-faktor yang harus dipertimbangkan dalam membuat jadwal pelaksanaan proyek: 
1.           Kebutuhan dan fungsi proyek tersebut. Dengan selesainya proyek itu proyek diharapkan dapat dimanfaatkan sesuai dengan waktu yang sudah ditentukan.
2.          Keterkaitannya dengan proyek berikutnya ataupun kelanjutan dari proyek selanjutnya bila ada.
3.           Kondisi alam dan lokasi proyek.
4.            Keterjangkauan lokasi proyek ditinjau dari fasilitas perhubungannya.
5.            Ketersediaan dan keterkaitan sumber daya material, peralatan, dan material pelengkap lainnya yang menunjang terwujudnya proyek tersebut.
6.       Kapasitas atau daya tampung area kerja proyek terhadap sumber daya yang dipergunakan selama operasional pelaksanaan berlangsung (luas lahan kerja).
7.         Produktivitas sumber daya, peralatan proyek dan tenaga kerja proyek, selama operasional berlangsung dengan referensi dan perhitungan yang memenuhi aturan teknis. Dari berbagai produktivitas sumber daya di proyek yang harus dicermati terutama adalah sumber daya manusia karena sumber daya ini memegang peranan penting dalam mengoperasikan atau mengolah sumber daya lain menjadi suatu produk jadi.
8.                Cuaca, musim dan gejala alam lainnya.
9.                Referensi hari kerja efektif. 
1.2                  Tujuan Penelitian
1.                  Menentukan metode pada lintasan kritis
2.                  Menentukan konsep cadangan waktu dalam proyek
1.3                 Batasan Masalah
  Pembangunan Rumah Sakit Advent Bandung     
II.                   Pembahasan
2.1                   Landasan Teori
  Pendanaan dan waktu yang terbatas serta pemilihan jumlah proyek yang kurang tepat dapat mengakibatkan kerugian dari sisi pemilik maupun rekan proyek. Masalah pendanaan yang terbatas dapat diselesaikan dengan pengalokasian dana yang tepat. Alokasi dana dapat di hasilkan dari evaluasi terhadap jenis kontrak dan bulan pembayaran. Ketepatan perhitungan proporsi sumber daya dan sumber dana yang harus dikeluarkan oleh suatu proyek konstruksi, akan dapat terorganisir apabila terdapat suatu standar yang digunakan sebagai suatu acuan sehingga penggunaan cost secara efisien akan tercapai.  
Salah satu metode yang efektif untuk merencanakan dan mengendalikan jadwal adalah Metode Jalur Kritis atau Critical Path Method (CPM). CPM pada dasarnya merupakan analisa jaringan kerja yang berusaha mengoptimalkan biaya total proyek melalui pengurangan waktu penyelesaian total proyek yang bersangkutan. Semakin sedikit jumlah waktu yang dibutuhkan untuk menyelesaikan sebuah proyek, semakin sedikit biaya yang diperlukan. Untuk itu, pengoptimalan ketersediaan cadangan waktu dapat menjadi solusi agar kegiatan proyek tidak terlambat.Critical Path Method (CPM) CPM (Critical Path Method) merupakan suatu metode dalam mengidentifikasi jalur atau item pekerjaan yang kritis. Pada CPM, jumlah waktu yang dibutuhkan untuk menyelesaikan berbagai tahap suatu proyek dianggap diketahui dengan pasti, demikian pula hubungan antara sumber yang digunakan dan waktu yang diperlukan untuk menyelesaikan proyek. Jadi CPM merupakan analisa jaringan kerja yang berusaha mengoptimalkan biaya total proyek melalui pengurangan waktu penyelesaian total proyek yang bersangkutan. CPM sering disebut juga AOA (Activity On Arrow) yang terdiri dari anak panah dan lingkaran/segi empat. Anak panah menggambarkan kegiatan/aktivitas, sedangkan lingkaran/segiempat menggambarkan kejadian (event). Kejadian (event) di awal anak panah disebut node “I”, sedangkan kejadian (event) di akhir anak panah disebut node “J”. Grafik atau bagan yang terdiri dari simbol-simbol anak panah dan lingkaran/segiempat tersebut melambangkan ilustrasi dari sebuah proyek.
Konsep cadangan waktu (time reserve management) adalah kurun waktu proyek yang belum diperuntukkan (uncommitted) bagi kegiatan tertentu, sehingga dapat dipakai untuk memecahkan masalah proyek dalam aspek jadwal (Dennis H. Busch, 1991). Konsep cadangan waktu dijabarkan sebagai perbandingan antara waktu yang diperlukan untuk menyelesaikan proyek terhadap waktu yang tersedia. Dalam konteks yang spesifik, CW adalah cadangan waktu pada jalur tertentu dari urutan kegiatan proyek. Angka CW dapat positif, negatif, atau nol. Positif berarti waktu yang tersedia lebih besar dari waktu yang diperlukan guna menyelesaikan proyek. Nol berarti waktu yang tersedia sama besar dengan waktu yang diperlukan. Sedangkan angka CW negatif berarti tidak cukup waktu untuk menyelesaikan proyek sesuai jadwal. Batasan cadangan waktu node dinyatakan dengan rumus sebagai berikut. CW = EET – LET Dimana, CW = Cadangan Waktu EET = Earliest Event Time LET = Latest Event Time

2.1                   Metode Penelitian

Metode pengumpulan data Pada penelitian ini didukung oleh data yang diperoleh dan dari berbagai sumber, antara lain: 1. Data primer, merupakan data utama yang diperlukan dalam penelitian ini. Data primer yang diperlukan untuk penelitian ini berupa data Kurva S yang diperoleh dari konsultan, kontraktor dan pengawas proyek tersebut. 2. Data sekunder, merupakan data pendukung yang dibutuhkan dalam penyusunan tugas akhir ini. Data sekunder ini merupakan data-data yang diperoleh dari literatur yang berupa referensi dan jurnal. Metode pengolahan data Data primer berupa time schedule akan dianalisis menggunakan CPM yang digunakan untuk menganalisis jaringan kerja proyek. Langkah-langkah yang dilakukan dalam pengevaluasian ulang time schedule proyek tersebut adalah sebagai berikut: a. Menyusun komponen-komponen kegiatan sesuai dengan logika ketergantungan tiap pekerjaan. b. Membuat jaringan kerja CPM. c. Mengidentifikasi jalur kritis dan jalur non kritis pada jaringan. d. Menghitung jumlah hari cadangan waktu yang didapat dari jalur non kritis jaringan kerja CPM.
2.1                   ANALISIS DAN PEMBAHASAN
 Dari data yang didapat dalam bentuk time schedule proyek pembangunan rumah sakit Advent Bandung, diperoleh bahwa pembangunan rumah sakit tersebut terdiri dari berbagai macam kegiatan/pekerjaan. Jaringan kerja dibuat untuk menjelaskan hubungan antara kegiatan dan waktu perencanaan proyek. Penyusunan jaringan kerja ini dibuat berdasarkan logika mengenai keterkaitan suatu aktivitas kegiatan dengan aktivitas-aktivitas kegiatan lainnya dalam menyelesaikan proyek secara keseluruhan. Setelah network digambarkan, langkah selanjutnya adalah melakukan perhitungan yang dilakukan dengan dua cara, yaitu perhitungan maju (forward analysis) dan perhitungan mundur (backward analysis).
Perhitungan maju
EETj = EETi + durasi A
EETk = EETj + durasi B
Perhitungan mundur
LETj = LETk – durasi B
LETi = LETj – durasi A
Setelah dilakukan perhitungan maju dan perhitungan mundur dari setiap kegiatan, dapat dilakukan penggambaran jaringan kerja proyek yang menggunakan metode CPM.
Tabel 1. Perhitungan cadangan waktu
No.


Durasi (hari)
EET
LET
CW= EET- LET
1.
Pekerjaan Pondasi Tiang Pancang
A1
19
19
19
0
2.
Galian Tanah
A2
15
34
34
0
3.
Galian Pile Cup & Sloof
A3
11
30
42
12
4.
Lantai Kerja
A4
10
29
40
11
5.
Bobok Kepala Tiang Pancang
A5
11
30
42
12
6.
Pembesian Pile Cup
A6
7
26
42
16
7.
Pembesian Sloof
A7
6
25
67
42
8.
Pembesian Stick Kolom
A8
6
25
67
42
9.
Pembesian Plat Lantai Basement
A9
6
25
56
31
10.
Pengecoran Base Plate Basement
A10
2
31
42
11
11.
Pembesian Dinding Basement
A11
8
42
42
0
12.
Bekisting Dinding Basement
A12
11
38
50
31
13.
Pengecoran Dinding Basement
A13
9
36
67
40
14.
Pembesian Kolom Basement ke Lt. 1

A14
4
34
74
12
15.
Bekisting Kolom Basement ke Lt. 1
A15
3
41
53
12
16.
Pengecoran Kolom Basement ke Lt. 1
A16
3
41
53
12
16.
Pengecoran Kolom Basement ke Lt. 1
A16
3
41
53
12
Analisis penggunaan cadangan waktu Pada dasarnya cadangan waktu dapat digunakan untuk mengatur ulang jadwal pengerjaan suatu kegiatan proyek, salah satunya adalah penundaan waktu mulai setiap kegiatan yang memiliki cadangan waktu.      
III.                   KESIMPULAN
               Dari analisis hasil evaluasi ulang pelaksanaan Proyek Pembangunan Rumah Sakit Prima yang mencakup waktu pelaksanaan di lapangan dengan menggunakan Critical Path Method (CPM) yang dilakukan oleh penulis dapat diambl kesimpulan sebagai berikut:
·         Jumlah cadangan waktu yang tersedia pada setiap kegiatan berbeda-beda, serta dapat dimanfaatkan untuk halhal berikut :
o   penundaan waktu mulai pekerjaan
o   pengaturan ulang jumlah tenaga kerja pada setiap kegiatan
·         Dengan menggunakan Critical Path Method (CPM), dapat diketahui secara lebih terperinci kegiatan-kegiatan yang bersifat kritis dan kegiatan-kegiatan yang bersifat non kritis yang jika dipergunakan dengan efektif akan memberikan kesempatan cukup dalam mengatur penjadwalan kegiatan proyek. 
IV.            DAFTAR PUSTAKA
Soeharto, Iman. 1995. Manajemen Proyek : Dari Konseptual Sampai Operasional Jilid 1. Erlangga. Jakarta.
Soeharto, Iman. 1998. Manajemen Proyek : Dari Konseptual Sampai Operasional Jilid 2. Erlangga. Jakarta.
Ahuja, Hira N. Project Management Techniques in Planning and Controlling Construction Projects. Wiley. Toronto.
Dipohusodo, Istimawan. 1996. Manajemen Proyek dan Konstruksi Jilid 2. Kanisius. Yogyakarta.